Sunda

Ti Wikikamus basa Sunda, kamus bébas
Luncat ka: pituduh, paluruh

Pagi-pagi sekali di balai desa sudah ramai oleh orang yang akan ikut rapat, mereka semua mengenakan pakaian adat sederhana. Diantara peserta rapat, juga terlihat Pak Komang yang mengenakan baju batik ditambah menggunakan kamben berwarna coklat tua dengan motif bunga. Dan ada juga seorang peserta yang berpakaian kumal dengan kamben berwarna hitam yang lusuh dan warnanya sudah hampir pudar serta menggunakan baju berwarna putih agak kecoklatan karena kotor, yang ikut berpartisipasi dalam rapat.

Rapat kali ini katanya akan membahas agenda tentang perbaikan gedung Sekolah Dasar di desa itu yang sudah bocor dan hampir ambruk. Semua peserta kelihatannya sudah mempersiapkan mental mereka masing-masing untuk berdebat di rapat nanti. Dan mereka semua tampak sudah siap dengan jawaban yang jitu. Sekitar sepuluh menit kemudian, datang seorang yang mengenakan pakaian dinas. Dan tentunya orang itu bukan warga biasa yang jadi peserta rapat. Ya memang benar orang itu adalah Pak Kades, kepala desa di sana.


Cerpen Pendidikan - Sumbangan Bergegas Pak Kades turun dari motornya, dan segera menempati tempat yang telah di sediakan. Langsung saja tanpa basa-basi, Pak Kades membuka rapat, dan semua peserta rapat terlihat serius mengikuti rapat itu. “Selamat pagi saudara-saudara semua!” Pak Kades menyapa peserta rapat dengan beerwibawa. “Selamat pagi Pak!” semua warga desa menjawab dengan kompak. “Baiklah, para peserta rapat sekalian. Agenda rapat kita hari ini tiada lain, tiada bukan adalah mengenai satu-satunya Sekolah Dasar di desa kita yang sudah bocor dan hampir roboh. Di sini saya harapkan, semua yang hadir ikut berpartisipasi untuk menyumbangkan pemikirannya, demi kebaikan generasi penerus bangsa di desa kita. Apabila saudara memiliki pendapat yang sifatnya membangun, langsung acungkan tangan saja dan silakan paparkan apa pendapat saudara. Tapi ingat, kita berhadapan di sini bukan untuk saling menatap penuh emosi, melainkan untuk saling mengadu argumen guna menyelesaikan masalah yang kita bahas, karena Negara kita menganut azas musyawarah mufakat. Bukan begitu saudara-saudara sekalian?” “Ya, benar!” Baru saja Pak Kades selesai berkata dan di jawab oleh peserta rapat secara kompak, langsung saja Pak Komang menyambar seperti tak ingin didahului oleh yang lainnya. “Ya, benar apa yang dikatakan oleh pemimpin rapat tadi. Kita di sini berkumpul bukan untuk saling bermusuhan, namun untuk memecahkan sebuah masalah. Dan di sini kita hanya perlu menjawab setuju atau tidak dan menanggapi apa yang kurang dan mengayomi yang benar. Desa kita punya satu sekolah yang bisa membawa anak-anak kita kelak menjadi orang yang hebat, tapi sayang keadaannya memprihatinkan. Atap bocor ditambah gedungnya mau ambruk, dan anak-anak kita jadi was-was saat belajar. Begitupula saat hujan mereka terpaksa harus dipulangkan. Itu akan mempengaruhi sekali tingkat kecerdasan anak-anak kita yang sekolah di sana. Mereka akan sulit konsentrasi dan hasilnya pun kurang memuaskan. Apa kata tetangga nanti bila generasi bangsa kita tak bisa apa-apa? Sehingga ini mesti kita tanggulangi secepatnya dan kita harus merehab gedung sekolah itu saudara-saudara. Bagaimana caranya? Ya kita pikirkan sama-sama hari ini.” “Tentunya kita harus mengumpulkan uang dulu untuk memperbaikinya. Kita tak mungkin hanya mengandalkan otot untuk memperbaikinya,” kata seorang warga yang bernama Pak Tunas. “Ya, kita harus menyumbangkan uang kita untuk itu!” seorang warga berseru melanjutkan kata Pak Tunas.

Salah seorang warga yang terbilang miskin di desa itu merasa kurang setuju apabila harus menyumbangkan uangnya untuk perbaikan sekolah. Dan ia pun berpendapat. “Maaf saudara-saudara kalau saya menyela sedikit. Saya kurang setuju apabila kita harus menyumbangkan uang. Ya mereka yang kaya, tentu saja bisa menyumbangkan uangnya berapapun yang mereka mau, tapi kalau orang seperti saya yang serba kekurangan, di mana saya harus mencari uang? Sementara untuk makan saja saya masih kurang, apalagi untuk sumbangan. Kalau saya pinjem uang, masak untuk sumbangan saya berani meminjam uang, sementara untuk makan saya harus bekerja keras!” Pak Komang berkata pada orang itu, “kita kan bisa menyumbang seikhlasnya, tak perlu ada paksaan!” “Tetap saja saya tidak setuju, karena zaman sekarang sulit mencari uang. Apalagi dengan maraknya korupsi di negri kita belakangan ini,” katanya dengan nada kesal. “Apa yang saudara katakana itu merusak penerus bangsa. Karena ego saudara sendiri anak-anak di desa kita bisa putus sekolah! Saudara seharusnya berfikir ke depan. Bukannya langsung berkata tak setuju,” sahut seorang warga kepada warga miskin itu. “Saudara jangan berkata seenaknya kepada saya. Saya tau saudara orang mampu, dan saudara bisa menyumbangkan uang saudara berapapun yang saudara mau untuk merehab sekolah itu. Kalau saudara merasa mampu untuk merehab sekolah itu sendir silakan saja saudara sendiri yang melakukannya. Toh saya juga tidak perlu sekolah itu. Buktinya anak-anak saya tidak ada yang sekolah. Makan saja susah apalagi menyekolahkan anak saya.” Ketegangan pun terjadi di antara peserta rapat. Sementara orang miskin itu tetap mempertahankan pendapatnya tidak setuju apabila harus menyumbangkan uang untuk merehab sekolah di desanya. Segala cara ia lakukan untuk membatalkan rencana itu. Akan tetapi peserta rapat yang lainnya tetap bersikukuh dengan pendapat mereka masing-masing untuk menyumbang uang guna merehab sekolah itu. Dan tetap saja warga miskin itu menjawab tidak setuju. Bahkan kini ia mulai emosi dengan warga yang ingin memberikan masukan padanya. Melihat hal itu Pak Kades tidak tinggal diam. Ia segera menenangkan peserta rapat agar tidak sampai terjadi keributan. “Saudara-saudara sekalian mohon tenang! Ini rapat bukan pasar malam, dan bukan juga pasar hewan.

Mohon dijaga etikanya. Kalau memang beliau tidak setuju mohon jangan dipaksa. Tidak baik jika memaksakan kehendak pada orang lain. Lebih baik kita cari jalan lain untuk menyelesaikan masalah ini!”

“Maaf pak, kalau saya sedikit lancang. Saya sudah tidak setuju dengan pendapat warga semua apabila harus menyumbangkan uang untuk merehab sekolah yang ada di desa kita. Saya tidak punya uang, dan mencari sekeping uang bagi saya itu sangat sulit pak. Mohon bapak bisa membantu saya dengan keadaan ekonomi saya yang seperti sekarang ini,” warga miskin itu berkata pada Pak Kades. “Ya saya mengerti pak! Sadara-saudara yang lain mohon hargai orang yang memiliki pendapat berbeda. Apabila beliau tidak setuju untuk menyumbangkan uangnya, mungkin beliau bisa menyumbangkan yang lain untuk merehab sekolah itu.” Pak Komang yang memang peduli dengan desanya langsung saja mengacungkan tangannya untuk berpendapat. “Pak, saya punya usul untuk menanggulangi masalah ini. Bagaimana kalau bapak ini kita minta untuk menyumbangkan apa saja yang beliau mampu. Karena dalam merehab sekolah ini, bukan uang saja yang dibutuhkan, melainkan ada hal lainnya yang juga dapat mendukung perehaban sekolah ini”. “Bagaimana kalau beliau menyumbangkan makanan, kalau beliau punya. Misalnya pisang, apabila beliau punya pisang yang matang, atau kacang rebus juga boleh,” seorang warga menambahkan saran dari Pak Komang. “Ya kalau saya boleh-boleh saja, tetapi kita harus bertanya dulu pada yang bersangkutan, apakah beliau mau atau tidak”, Pak Kades menjawab dengan bijaksana. “Sudah saya bilang dari tadi saya tidak bisa menyumbangkan uang untuk merehab sekolah itu!” warga misikin menjawab dengan suara keras. “Siapa yang mengatakan bapak harus menyumbangkan uang? Kan tadi dikatakan bagaimana kalau bapak menyumbangkan makanan seperti pisang atau kacang rebus,” Pak Komang menegaskan lagi pada warga miskin itu. “Saudara semua ini tidak tau ya? Kalu saya menyumbangkan makanan sama saja dengan menyumbangkan uang. Pisang itu bisa dijual dan nanti dapat uang, dan uangnya saya gunakan untuk makan dengan keluarga saya. Begitu juga dengan kacang yang saya hasilkan dari kebun. Kalau pisang atau kacangnya saya sumbangkan, nanti anak istri saya makan apa?” “Kan tidak harus semua yang bapak sumbangkan. Mungkin bapak bisa menyumbangkannya sedikit saja. Dan sisanya dijual untuk keperluan bapak makan bersama keluarga,” sambung Pak Komang. “Saudara ini terlalu cerewet! Saya itu kalau penen pisang tidak bisa banyak-banyak. Dan tak mungkin juga saya memanen kacang setiap hari. Itu artinya saya harus menunggu lama, dan itu juga butuh biaya perawatan. Selain itu, hasilnya harus dibagi dua dengan pemilik tanah. Kalau saya sumbangkan sedikit saja saya akan kekurangan biaya penghidupan untuk keluarga saya. Tolong saudara bisa mengerti!”

Mendengar kata dari warga miskin itu, semua peserta rapat terdiam. Sejenak suasana menjadi sepi. Sambil menghela nafas, Pak Kades memberikan sebuah jalan tengah untuk pemecahan masalah ini. “Saudara-saudara semua, saya punya sebuah solusi yang saya anggap sangat baik untuk memecahkan masalah ini. Bagaimana kalau bapak ini kita jangan paksa untuk menyumbangkan uang ataupun makanan, melainkan hanya cukup menyumbangkan tenaga untuk perehaban sekolah itu. Bagaimana pak, apakah bapak setuju?” “Wah, itu ide bagus pak!” Pak Komang segera menyambar pertanyaan yang ditujukan kepada warga miskin. “Pak Komang, jangan seenaknya saudara bicara! Yang ditanya saudara atau saya? Kalau memang saudara yang ditanya, maka saudara berhak untuk menjawab. Akan tetapi saat ini saya yang harus menjawab pertanyaan itu, bukan saudara,”warga miskin berkata dengan nada marah. “Mohon tenang pak, jangan terpancing emosi. Kita di sini bukan untuk mencari musuh, mohon bapak tenang,” Pak Kades mencoba menenangkan suasana. “Pak, saya tetap saja tidak bisa menyumbang apa-apa. Baik itu uang, makanan, tenaga, ataupun yang lainnya.” “Mengapa bisa begitu pak?” Pak Kades mencoba mencari tau yang sebenarnya. “Ya! Kalau saya sumbangkan tenaga saya untuk merehab sekolah, saya tidak akan bisa menggarap tanah yang saya kontrak. Kalau saya tidak bisa mengolah tanah, ya sudah barang tentu saya tidak bisa panen pisang atau kacang.”

Semua warga tak bisa berkata apa-apa, termasuk Pak Kades mendengar kata warga miskin itu. Namun dalam hatinya, Pak Komang berbisik kecil. “Sungguh ironis orang-orang di negeri kita ini. Ia akan melakukan segala daya upaya untuk dapat memenuhi hasrat pribadinya.”